Malam hanya angan-angan
Malam ku dingin
Seperti halnya senyumanmu yang terangan
Bagaikan angin sepoi-sepoi yang dingin
Hanya sang penikmat sajak
urep kui nandur
Rabu, 28 Agustus 2019
Senin, 29 Juli 2019
Surat dari Sang Maha Pencipta
Saat kau terbangun di pagi hari, Aku memandangimu dan berharap engkau akan berbicara kepadaku, walaupun hanya sepatah kata meminta pendapat-ku atas bersyukur kepadaku atas suatu hal yang indah yang terjadi dalam hidupmu hari ini atau kemarin.
Tetapi, aku melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja. Aku kembali menanti saat engkau sedang bersiap, aku tahu akan ada sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapa-ku, tetapi engkau terlalu sibuk.
Di suatu tempat, engkau duduk di sebuah kursi selama 15 menit tanpa melakukan apapun. Kemudian, aku melihat engkau menggerakkan kakimu. Aku berpikir engkau akan berbicara kepadaku, tetapi engkau berlari ke telepon, dan menelepon seorang teman untuk mendengarkan gosip terbaru. Aku melihatmu saat engkau pergi bekerja dan aku menanti dengan sabar sepanjang hari.
Dengan semua kegiatanmu, Aku berpikir engkau telah sibuk untuk mengucapkan sesuatu kepadaku. Sebelum makan siang, Aku melihatmu memandang ke sekeliling, mungkin engkau merasa malu untuk berbicara kepadaku, itulah sebabnya mengapa engkau merasa malu untuk berbicara kepadaku, itulah sebabnya mengapa engkau tidak menundukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaku dengan lembut sebelum mereka menyantap rezeqi yang ku berikan, tetapi engkau tidak melakukannya.
Yah, tidak apa-apa masih ada waktu yang tersisa dan aku berharap engkau aakaan berbicara kepadaku, meskipun saat engkau akan berbicara kepadaku, meskipun saat engkau pulang ke rumah kelihatannya banyaak hal yang harus kau kerjakan. Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan televisi, aku tidak tahu apakah engkau suka menonton televisi atau tidak, hanya saja engkau selalu kesana dan menghabiskan banyak waktu ssetiap hari di depannya, tanpa memikirkan apapun dan hanya menikmati acara yang ditampilkan. Aku kembali menanti dengan sabar saat engkau menonton televisi dan menikmati makananmu, tetapi kau tetap tidak berbicara kepadaku.
Saat tidur, aku pikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ke tempat tidur tanpa sepatah kata menyebut namaku.
Tidak apa-apa karena mungkin engkau tidak menyadari bahwa aku selalu hadir untukmu. Aku telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari. Aku bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain. Aku sangat menyanyangimu, setiap hari aku menantikan sepatah kata do'a, pikiran, atau ucapan syukur dari hatimu.
Baiklah engkau bangun kembali dan aku kembali menanti dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberiku sedikit waktu untuk menyapaku. Tapi yang aku tunggu tak jua kau menyapaku. Dari detik ke detik, dari menit ke menit, dari jam ke jam hingga hari berganti lagi, kau masih mengacuhkanku. Tak ada sepatah kata, tak ada seucap do'a, dan tak ada rasa, tak ada harapan, dan keinginan untuk bersujud kepadaku.
Apakah salahku padaamu? rezeqi yang aku limpahkan, kesehatan yang aku berikan, harta yang aku limpahkan, makanan yang aku hidangkan, anak-anak yang aku rahmatkan, apalah hal itu tidaak membuatmu ingat kepadaku?
Percayalah, aku selalu mengasihimu, dan aku tetap berharap suatu saat kau akan menyapaku, memohon perlindungan ku, dan bersujud kepadaku.
(YANG SELALU MENYERTAIMU SETIAP SAAT)
Dikutip dari Surat dari Sang Maha Pencipta
VANNY CHRISMA W
penullis buku kisah keluarga tikus
- DI SINI ALLAH SWT suka mendengarkan curhatan dari hambanya
Minggu, 28 Juli 2019
Kamis, 18 Juli 2019
Goresan pena Kang Santri Hal 167-168
18/07/19
sholeh_yahya
KADO BUAT SANTRI
Dalam muqaddimah kitab Minhajut Tholibin, Imam
Nawawi r.a. Berkata :
فاءن الاشتغال بالعلم من افضل الطاعات. واولي ما
انفقت فيه نفا ئس الاوقات
Artinya : “ Sesungguhnya menyibukkan diri
dengan ilmu adalah ibadah to’at yang paling utama pada ALLAH SWT dan
sebaik-baiknya waktu indah yang dipergunakan untuknya ”.
Suatu ketika Sayyid Alawy bin Abbas Al-Maliki
pernah ditanya perihal thariqah beliau dan beliaupun menjawab bahwasannya
thariqah yang beliau amalkan ialah “ Belajar dan mengajarkan ilmu”.
Imam Syafi’ipun berpendapat bahwasannya “
Istighol bil ilmi” (menyibukkan diri untuk ilmu) itu lebih baik dari pada
melakukan sholat sunnah semalam suntuk.
Guru kita pernah berkata bahwasannya : “ Semua
Walinya Allah swt itu tidak ada yang bodoh (pasti alim) kalau gak alim jangan
punya cita-cita dulu jadi wali”.
“ Jadi kalau kamu ingin jadi kekasihnya ALLAH
SWT carilah ilmu dengan sungguh-sungguh biar kamu jadi alim serta menggamalkan
ilmunya otomatis kamu jadi Waliyulloh ”, Lanjut beliau.
Mengenal rizqi anak mondok (santri), apakah terjamin
?!?!?!
Ada sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam
Tirmidzi dalam kitab sunannnya (nomor 2345) dari Sayyidina Anas bin Malik :
Bahwasannya ada dua orang bersaudara yang mana salah satu dari mereka sibuk
bersama Nabi Muhammad saw guna mencari ilmu, dan yang satunya lagi sibuk
bekerja untuk membiayai mereka berdua. Lalu sang pemuda pekerja tersebut
mengadukan hal tersebut pada Rasulullah saw dan nabi pun memberi jawaban
padanya : “ Allah swt memberi rizqi padamu sebab saudaramu itu (pemuda yang
menuntut ilmu kepada nabi saw)”.
Jadi kesimpulannya dari hadist di atas anak
yang menuntut ilmu agama (syari’at) tidak akan menjadi beban mengenai rizqi
keluarganya, bahkan sebaliknya malah menjadi sumber rizqi bagi para keluarga
yang berada di rumah.
Begitu pula disaat ia pulang di rumah, ketika
ia berpegang teguh dalam agama serta mau mengamalkan ilmunya insyaa allah pasti
soal rizqi akan dimudahkan oleh allah swt dan ini selaras dengan beberapa janji
allah swt yang terkomendasi dalam Al-Qur’an.
Rabu, 17 Juli 2019
GORESAN PENA
Kang Santri
ü 7 Kitab Hadist Best Seller
1. Sohih Bukhori
Kitab ini adalah buah karya dari Imam Muhammad
bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh bin Gardizbah, beliau lahir pada tahun 194
H dan wafat tahun 256 H.
2. Sohih Muslim
Kitab ini adalah buah karya dari Imam Abdul
Husain Muslim bin hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi, beliau lahir padda tahun 206 H
dan wafat pada tahun 261 H.
3. Muwatto’
Kitab ini adalah buah karya dari Imam Abu
Abdillah Malik bin Anas Al-Madaniy. Beliau lahir pada tahun 95 H. Dan beliau
wafat pada tahun 179 H.
4. Sunan Abi Dawud
Kitab ini adalah buah karya dari Imam Sulaiman
bin Ash ‘ash bin Ishaq As-Sijjitaniy beliau
lahir pada tahun 202 H dan beliau wafat pada tahun 270 H.
5. Sunan Tirmidzi
Kitab ini adalah buah karya dari Imam Abu Isa Muhammad
bin Isa bin Sauroh As-sulamy beliau lahir pada tahun 209 H. Dan beliau wafat
pada tahun 279 H.
6. Sunan Nasa’i
Kitab ini adalah buah karya dari Imam Abu Abdirrohman
Ahmad bin Syu’aib bin Ali An-Nasa’i beliau lahir pada tahun 225 H dan beliau
wafat pada tahun 303 H.
7. Sunan Ibnu Majah
Kitab ini adalah buah karya dari Imam Abu
Abdillah Muhammad bin Yazid bin Majah Ar-Rob’iy beliau lahir pada tahun 207 H
dan beliau wafat pada tahun 275 H.
Dikutip dari buku saku
Goresan Pena
Kang_santri Hal 127-128
M. Wildan Jauhari
Sabtu, 06 Juli 2019
Karena Kau Manusia, Sayangi Manusia
" Memuliakan manusia berarti memuliakan penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia berarti merendahkan dan menistakan pencptanya. "
>Gus Dur<
" Manusia ditunjuk sebagai wakil tuhan di muka bumi, semestinya harus mempunyai sifat-sifat ketuhanan, seperti pengasih dan penyanyang, bukan malah saling memusuhi dan bertikai. Marilah kita selalu menjaga kemanusiaan dan kehambaan kita, agar kita tetap dimuliakan dan dikasihi tuhan kita "
>Gus Mus<
Rabu, 23 Januari 2019
Semangat Pluralisme Berkobar Sejak Muda.
Gus dur merupakan salah satu penggagas teologi pluralisme yang menghargai perbedaan, Gus dur adalah seorang pencari kebenaran tanpa henti. Ia tak mau berhenti pada suatu tafsir tentang islam. Ketika studi di Mesir dan terutama di Irak, Gus dur mulai mengenal varian nasionalisme Arab dan sosialisme. ia mengagumi sosok Gamal Abdul Nasr, pemimpin nasionalis Mesir, yang membuka peluang pemikiran-pemikiran islam masuk dan berkembang.
Di Universitas Baghdad, Irak, ia terkagum-kagum dengan sosok Saddam Husein. Namun, petualangan Gus Dur di kancah epistemologi nasionalisme dan sosialisme Aranb ini tak bertahan lama, setelah Azis Badri, seorang ulama terkenal di Irak tewas dibunuh.
Intelektualisme Gus Dur tak hanya terbentuk oleh pergumulannya dengan ideologi-ideologi modern. Ia mempelajari ilmu-ilmu kajian islam selama petualangannya hingga ke Universitas McGill, Kanada. Tak lama di sana, Gus Dur pulang, ke Indonesia, menyemai pemikirannya bersama kelompok-kelompok studi dan organisasi non pemerintah. Salah satunya adalah lembaga penelitian, pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial ( LP3ES ) yang dimotori para intelektual muslim muda seperti Dawam Raharjo, ASwab Mahasin, dan Adi Sasono.
Lp3S menerbitkan jurnal yang punya reputasi cukup mentereng di era 1970-1980-an, yaitu jurnal Prisma Di Prisma, Gus Dur mulai mengobarkan semangat serupa teologi yang menempatkan agama sebagai advokat bagi kaum lemah dan terpinggir dalam proses pembangunan.
Kebetulan negara-negara dunia ketiga tengah bersemangat dengan ideologi developmentalism. Dari Gus Dur meluncurlah apa yang disebut sebagai ' Pribumisasi Islam '.
Wacana ini setara dengan konsep ' sekularisasi ' Nurcholish Madjid yang mengetengahkan jargon : Islam Yes, Partai Islam No. Pribumisasi Islam No. Pribumisasi Islam adalah sebuah upaya untuk menampik tafsir tunggal ' Islam sama dengan Arab ' alias Arabisasi.
Pribumisasi Islam sangat menghargai nilai-nilai lokal dalam praktik islam sehari-hari. Islam tak selalu Arab, karena umat islam tumbuh di kultur masing-masing, termasuk di Indonesia. Salah satu aktualisasi Pribumisasi Islam adalah menampik berdirinya negara teologi di Indonesia. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah final.
Gus Dur satu garis dengan ulama Mesir, Ali Abdul Raziq, yang menyatakan tak ada negara islam. Tak heran, saat rezim Orde Baru menyatakan Pancasila sebagai azas tunggal semua organisasi san partai politik, Gus Dur enteng saja menerima. Padahal, gagasan asas tunggal ditentang oleh sejumlah organisasi massa islam.
Gus Dur seringkali mengatakan bahwa yang ia perjuangkan adalah islam berwatak kultural, bukan islam yang selalu tampil di kelembagaan politik.
Kritik terhadap tasawuf yang dianggap dapat menyesatkan umat islam juga sering kali dialamatkan padanya. Dalam kata pengantar sebuah buku yang berjudul " Tasawuf, Pluralisme, dan Pemurtadan " Karya Hartono Ahmad Jaiz, menyebutkan: " Puncak kesesatan tasawuf itu bertemu dengan apa yang kini disebut pluralisme, yaitu paham yang menganggap bahwa semua agama itu pararel, sejajar, sama. Di samping itu, kaum pruralis mengecam Muslimin yang istiqamah yang berkeyakinan bahwa islam sajalah yang benar dan diterima oleh ALLAH SWT. kelompok pluralis mengecam muslimin yang istiqamah dengan meyakini bahwa islam sajalah yang benar itu sebagai orang yang mengklaim dirinya berada di pulau kebenaran . Lebih dari itu, menurut orang pluralis, kita tidak boleh melihat agama lain pakai agama yang kita peluk. Jadi, untuk melihat agama lain,menurut kaum pluralis, pandangan kita harus lepas dari agama kita sendiri, yang pada hakekatnya kita harus murtad lebih dulu, kalau mau menilai agama lain. "
judul buku : jejak sang guru bangsa.penyusun : M.Hamid.
Langganan:
Postingan (Atom)







