sang penikmat sajaak

Foto saya
Batang, Batang/Jawa tengah, Indonesia

Rabu, 23 Januari 2019

Semangat Pluralisme Berkobar Sejak Muda.
         Gus dur merupakan salah satu penggagas teologi pluralisme yang menghargai perbedaan, Gus dur adalah seorang pencari kebenaran tanpa henti. Ia tak mau berhenti pada suatu tafsir tentang islam. Ketika studi di Mesir dan terutama di Irak, Gus dur mulai mengenal varian nasionalisme Arab dan sosialisme. ia mengagumi sosok Gamal Abdul Nasr, pemimpin nasionalis Mesir, yang membuka peluang pemikiran-pemikiran islam masuk dan berkembang.

     Di Universitas Baghdad, Irak, ia terkagum-kagum dengan sosok Saddam Husein. Namun, petualangan Gus Dur di kancah epistemologi nasionalisme dan sosialisme Aranb ini tak bertahan lama, setelah Azis Badri, seorang ulama terkenal di Irak tewas dibunuh. 

      Intelektualisme Gus Dur tak hanya terbentuk oleh pergumulannya dengan ideologi-ideologi modern. Ia mempelajari ilmu-ilmu kajian islam selama petualangannya hingga ke Universitas McGill, Kanada. Tak lama di sana, Gus Dur pulang, ke Indonesia, menyemai pemikirannya bersama kelompok-kelompok studi dan organisasi non pemerintah. Salah satunya adalah lembaga penelitian, pendidikan, dan Penerangan Ekonomi dan Sosial ( LP3ES ) yang dimotori para intelektual muslim muda seperti Dawam Raharjo, ASwab Mahasin, dan Adi Sasono.

        Lp3S menerbitkan jurnal yang punya reputasi cukup mentereng di era 1970-1980-an, yaitu jurnal Prisma Di Prisma, Gus Dur mulai mengobarkan semangat serupa teologi yang menempatkan agama sebagai advokat bagi kaum lemah dan terpinggir dalam proses pembangunan.

    Kebetulan negara-negara dunia ketiga tengah bersemangat dengan ideologi developmentalism. Dari Gus Dur meluncurlah apa yang disebut sebagai ' Pribumisasi Islam '. 

        Wacana ini setara dengan konsep ' sekularisasi ' Nurcholish Madjid yang mengetengahkan jargon : Islam Yes, Partai Islam No. Pribumisasi Islam No. Pribumisasi Islam adalah sebuah upaya untuk menampik tafsir tunggal ' Islam sama dengan Arab ' alias Arabisasi.

           Pribumisasi Islam sangat menghargai nilai-nilai lokal dalam praktik islam sehari-hari. Islam tak selalu Arab, karena umat islam tumbuh di kultur masing-masing, termasuk di Indonesia. Salah satu aktualisasi Pribumisasi Islam adalah menampik berdirinya negara teologi di Indonesia. Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah final.

          Gus Dur satu garis dengan ulama Mesir, Ali Abdul Raziq, yang menyatakan tak ada negara islam. Tak heran, saat rezim Orde Baru menyatakan Pancasila sebagai azas tunggal semua organisasi san partai politik, Gus Dur enteng saja menerima. Padahal, gagasan asas tunggal ditentang oleh sejumlah organisasi massa islam.

        Gus Dur seringkali mengatakan bahwa yang ia perjuangkan adalah islam berwatak kultural, bukan islam yang selalu tampil di kelembagaan politik.

     Kritik terhadap tasawuf yang dianggap dapat menyesatkan umat islam juga sering kali dialamatkan padanya. Dalam kata pengantar sebuah buku yang berjudul " Tasawuf, Pluralisme, dan Pemurtadan " Karya Hartono Ahmad Jaiz, menyebutkan: " Puncak kesesatan tasawuf itu bertemu dengan apa yang kini disebut pluralisme, yaitu paham yang menganggap bahwa semua agama itu pararel, sejajar, sama. Di samping itu, kaum pruralis mengecam Muslimin yang istiqamah yang berkeyakinan bahwa islam sajalah yang benar dan diterima oleh ALLAH SWT. kelompok pluralis mengecam muslimin yang istiqamah dengan meyakini bahwa islam sajalah yang benar itu sebagai orang yang mengklaim dirinya berada di pulau kebenaran . Lebih dari itu, menurut orang pluralis, kita tidak boleh melihat agama lain pakai agama yang kita peluk. Jadi, untuk melihat agama lain,menurut kaum pluralis, pandangan kita harus lepas dari agama kita sendiri, yang pada hakekatnya kita harus murtad lebih dulu, kalau mau menilai agama lain. "

judul buku : jejak sang guru bangsa.penyusun   : M.Hamid. 



Jumat, 11 Januari 2019

 KETIKA SANG PECANDU KOPI KEHILANGAN SECANGKIR KOPINYA.  

Pada sebuah pagi, yang dibingkai dengan indahnya mentari pagi. udara segarpun menemani pagi ini, sang pemuda yang ketika itu kehilangan bagaimana cara menikmati kopi, bangun dari tidurnya yang memimpikan ambisi yang luar biasa ataupun ambisi yang akan membuat dunia tercengang pada dirinya ia pun mulai bangkit dari tidrnya dan berusaha berdiri walaupun nyawanya masih setengah, tetapi ia pun berusaha berdiri dengan tegak bagaikan barisan tentara yang siap untuk bertempur.

Ketika ia melangkahkan kakinya menuju dapur, mungkin tak ada lagi pada pikiran pemuda itu kalau tidak mencari serbuk kopi untuk ia seduh. tapi yang paling kecewa dari pemuda ini, ia sudah mencari-cari sekat demi sekat dari almari dapurnya tapi apa, ada daya yang ada hanya green tea yang masih tersegel di dalam toples itu pun mungkin masih sedikit. sang pemuda tak pikir panjang untuk membuka toples yang masih tersegel, ia pun menyiapkan gelas kaca yang udah berisi butiran-butiran gula yang sudah sesuai takaran, ia pun mempadukan green tea dengan gula di dalam gelas kaca itu, ketika sang pemuda mulai menyeduhkan air hangat ke dalam gelas kaca itu aroma green tea yang khas itu pun mulai terhirup, seketia itu angan-angan yang ada di pikiran mulai menari-nari bagaikan penari ballet yang lues gerak likuk tubuhnya.

Ketika sang pemuda mulai mengaduk, green tea dan gula pun ikut mengeluarkan melodi yang khas bagaikan aransemen blues klasik. sang pemuda pun mulai menuju tempat ternyaman dengan membawa segelas green tea yang mempunyai aroma ciri khas, ketika sang pemuda memilih soffa untuk tempat duduknya, ia pun mulai mengambil sebatang rokok dan mulai menyalakan dengan sebatang korek kayu dan tak sengaja menimbulkan nada yang khas, disini sang pemuda mulai menikmati awal kehidupannya dengan berimajinasi yang mulai ia tulis di catatan kecilnya.

Ia mulai menulis judul yang bertuliskan ketika pecandu kopi kehilangan secangkir kopinya di selembaran kertas putih yang mempunyai makna kesucian,  ia pun mulai berduet dengan imajinasinya yang ia mulai tulis di catatan kecilnya dipandangannya tulisan-tulisan itu menari-nari bagaikan penari jaipong yang meresapi alunan-alunan tabuhan gamelan yang memiliki bunyi sangat mistik.

Dia mulai mencari permasalahan-permasalahan apa yang menimbulkan ketika sang pecandu kopi mulai kehilangan secangkir kopinya. dan ia mulai merumuskan ketika ia mulai berkhayal mungkin kebiasaan ketika sudah tidak bisa dinikmati, mungkin kita bisa mulai kebiasaan yang berbeda dari kebiasaan sebelumnya. dan seketika itupun memang benar....
..........................
mohon maaf kalau masih banyak kosa kata yang kurang tepat
mohon saran dan masukannya, tiada hasil yang mengkhianati kesungguhan.

wassalamualaikum.wr.wb

Kamis, 10 Januari 2019

Jadilah pemikir seperti plato
atau bisa juga menjadi komedian seperti charlie chaplin, tapi karena dunia dan hidup ini amat lucu maka jadilah keduanya.





@Mochamad Wahyu Syamsuddin









Sabtu, 05 Januari 2019

cerita yang masih misterius

Cerpen
     Hidup itu pengabdian gaees, kata " Gus Dur " jadi hidup kita itu harus bermanfa'at bagi lingkungan sekitar, karena sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang bisa memberi manfa'at di lingkungan sekitar.
      Aku disini memulai karya ini dari kisah seorang lelaki yang mempunyai ambisi yang sangat besar, yang dipertanyakan apakah usaha dari lelaki tersebut sudah maksimal atau malah hanya sebuah angan-angan saja...
To Be Continued...
Pada, sebuah kenangan yang tak mampu ku hapus dalam ingatan. Kisah ini berawal dari aku mulai mengenal perempuan. Pada suatu pagi hari yang dihiasi oleh sinar mentari yang mulai menampakkan keindahannya ini, kegiatan ini biasa